Masjid Jami’ Keramat Luar Batang
Sekilas Tentang Masjid Jami’ Keramat Luar Batang

Perjalanan rohani telah menjadi bagian dari cerita kehidupan manusia sejak dahulu kala, yang dilakukan untuk memberikan ketenangan batin dengan kedekatan rohani dari pribadi kepada penciptanya. Yang pada keteduhannya, sebuah rumah ibadah dibangun untuk menjadi tempat berkumpulnya para penjelajah rohani dan menjadi pusat kegiatan religi.

Layaknya Masjid Jami’ Keramat Luar Batang, yang menjadi pusat beribadah dan berbagai kegiatan religi dari masyarakat. Tidak terbatas pada masyarakat Kampung Luar Batang, tapi juga masyarakat dari berbagai penjuru yang ingin melakukan perjalanan religi. Termasuk di dalamnya, terdapat makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus yang sering menjadi destinasi ziarah.

Seiring perjalanannya, Masjid Jami’ Keramat Luar Batang mengalami renovasi dan revitalisasi beberapa kali. Dewasa kini, pada masa jabatan Gubernur DKI Jakarta, H. Anies Rasyid Baswedan, Masjid Jami’ Keramat Luar Batang sedang dalam proses renovasi dan revitalisasi tahap pertama kembali untuk menyambut hangat para Penapak yang melakukan perjalanan.

Napak Tilas Masjid Jami' Keramat Luar Batang

Masjid Jami' Keramat Luar Batang merupakan masjid yang kaya akan cerita perjalanan sejarah dan makna religi yang mendalam. Berakar sejak tahun 1739 M, masjid ini menapak dengan bentuk awal sebagai musholla. Didirikan di atas tanah VOC oleh seorang pendakwah dari Hadramaut yang datang ke Batavia pada tahun 1736 M untuk menyebarkan agama Islam, yaitu Sayyid Husein bin Abubakar Alaydrus. Beliau wafat pada tahun 1756 M dan kini makamnya berada di dalam masjid bersama dengan para muridnya.

Masjid Jami' Keramat Luar Batang memiliki arsitektur khas masjid tua di pulau Jawa sebelum abad ke-20. Yaitu dengan memiliki atap tumpang, dan menara dengan bulan-bintang di atasnya. Hanya ada atap lancip atau sebuah cungkup seperti bangunan Hindu-Jawa. Masjid ini mempunyai denah dasar segi empat bujur sangkar yang ditopang dengan soko-guru yang masih asli serta beratap tumpang, memberi ciri sebagai bangunan tua serta di sebelah utara terdapat ruang Keputren.

Bangunan masjid terdiri atas dua bangunan (lama dan baru) yang dikelilingi tembok dengan pintu gerbang yang terletak di sisi timur, di bagian depan terdapat pelataran, di bagian kanan pelataran terdapat tempat wudhu. Sedangkan di sisi kanan pelataran terdapat sebuah kentongan dan sisi kiri terdapat ruangan pawestren. Sebelum masuk ruang utamanya, terdapat sebuah serambi. Ruang utama dari masjid ini berbentuk persegi empat yang di dalamnya terdapat tiang, mihrab dan mimbar.

Di sisi kiri ruang utama terdapat sebuah ruangan tempat makam Sayid Husein dan Abdul Kadir bin Adam yang dikeramatkan. Selain itu, di sisi barat dalam masjid terdapat makam Al-Habib Husein. Makamnya tertutup rapat dengan cungkup yang ditutupi kain dan hanya dibuka pada bulan Maulid dan bulan haul (wafatnya). Serta di sisi timur terdapat makam dari seorang pendamping setia Al-Habib Husein yang beretnis Tionghoa bernama Nek Bong Seng. Nisannya terbuat dari batu kali tanpa ukiran dan catatan tahun wafatnya.

Napak Tilas Makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus

Makam Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus merupakan salah satu makam tertua yang ada di Jakarta yang berada di kiri pintu masuk dalam bangunan Masjid Jami’ Keramat Luar Batang. Cerita tentang riwayat Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, beliau lahir di Hadramaut dari keluarga sederhana sebagai yatim dan dititipkan kepada seorang “alim sufi’. Semasa masih belia, beliau berniat hijrah ke kota Surat di Gujarat (India Utara), yang sedang terjangkit wabah dan dilanda kekeringan. Namun legenda mengatakan, kedatangan beliau mendatangkan kesehatan dan juga hujan. Karena hal tersebut, beliau ditawarkan untuk menjadi penguasa setempat, yang mana ditolak oleh beliau karena hendak berangkat ke Batavia.

Sesampainya di Batavia, beliau berbaur dengan masyarakat setempat dan beberapa tahun kemudian menggagas pembangunan surau. Kemudian seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mengunjungi beliau untuk belajar berdoa. Pada suatu malam, datanglah seorang Tionghoa dengan badan basah kuyup. Ia melarikan diri dari tahanan karena hendak dijatuhi hukuman mati. Waktu tentara VOC tiba untuk menangkapnya, Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus mengatakan “Aku akan melindungi tawanan ini dan menjadi jaminannya”. Lalu tentara tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Semenjak itu, beliau semakin terkenal dan semakin banyak orang yang mulai datang bermukim di sana. Hal ini menyebabkan kecurigaan penguasa setempat.

Gerbang Masjid Jami' Keramat Luar Batang

Gerbang pintu masuk Masjid Jami’ Keramat Luar Batang adalah bagian infrastruktur yang juga masih berdiri kokoh sejak dahulu kala. Pada utamanya, berfungsi sebagai penanda telah memasuki wilayah Masjid Jami’ Keramat Luar Batang untuk para masyarakat atau peziarah. Gerbang masuk yang berupa gapura berada di sisi timur kompleks masjid, berupa bangunan dengan lebar 3 m dan tinggi 5 m. Bangunan gapura seakan dibagi dua, bagian bawah dan bagian atas. Pada bagian bawah terdapat lubang pintu masuk berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi sekitar 2 m.

Minaret Masjid Jami' Keramat Luar Batang

Minaret Masjid Jami’ Keramat Luar Batang merupakan salah satu bagian infrastruktur asli yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Minaret dengan bentuk yang unik ini terletak berdekatan dengan bangunan utama yang pada hakekatnya berfungsi oleh juru adzan untuk mengumandangkan adzan.