Beranda
Artikel
BERJALAN SEPENUH KEUTUHAN UNTUK MELENGKAPI KEINDAHAN
BERJALAN SEPENUH KEUTUHAN UNTUK MELENGKAPI KEINDAHAN

Setelah berjalan menempuh banyak cerita untuk melengkapi kepingan yang terpisah, sekarang saatnya kita melengkapi keindahan dari Jakarta Utara, Kampung Luar Batang. Sebuah pemukiman penuh sejarah dan merupakan pemukiman tertua di Jakarta, dibangun sekitar tahun 1630. Pada awalnya pemukiman ini lahir untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang dekat dengan tempat bekerja, yakni Pelabuhan Sunda Kelapa.

Pada abad ke 17, setelah VOC berdiri, Kampung Luar Batang menjadi tempat penampungan sementara bagi awak kapal/orang pribumi Nusantara yang akan memasuki Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada waktu itu, peraturan VOC melarang kapal-kapal Indonesia melintasi pelabuhan pada malam hari. Pengawasan yang ketat dilakukan untuk seluruh kapal dan setiap kargo. Mereka diharuskan melewati pos pemeriksaan. Sambil menunggu izin berlabuh ke Pelabuhan yang bisa memakan waktu berhari-hari, dan kemudian para anak buah kapal membangun pemondokan sementara berupa gubuk. Secara

perlahan pemondokan tersebut dikenal dengan nama Kampung Luar Batang atau kampung yang berada di luar pos pemeriksaan.

Sejak masa VOC, pihak penguasa sering mendatangkan tenaga kerja guna membangun pelabuhan dan kastil Batavia. Para pekerja di lokasi itu didatangkan dari berbagai daerah dan ditempatkan di Kampung Luar Batang. Seiring berjalannya waktu, situasi di Kampung seluas 16,5 hektar ini semakin padat dan mempunyai beragam etnis yang menempati. Dahulu, ada pengkaplingan dalam area hunian, seperti klaster orang Arab, klaster Jawa, klaster Bugis. Fakta unik lainnya, pada zaman awal terdapat pasar ikan di Kampung Luar Batang, dibangun pada tahun 1631. Konon merupakan pasar tertua di Jakarta. Pada awalnya berada di atas laut/sungai, namun karena pelebaran Kastil pada 1636 pasar ini dipindahkan lokasinya ke sebelah barat Kali Ciliwung (sekarang dekat Museum Bahari).

Di Kampung Luar Batang terdapat masjid bersejarah yaitu Masjid Keramat yang di dalamnya terdapat kompleks makam kyai terkenal Al Habib Husein Bin Abubakar Alaydrus. Menurut kisahnya, al-Habib Husein adalah seorang pendakwah muslim dari Hadramaut yang pada tahun 1736 datang ke Batavia dan mendirikan surau pada sebidang lahan pemberian salah satu Gubernur Jenderal Belanda. Habib tersebut sering didatangi orang dengan tujuan untuk belajar agama. Setelah meninggal pada Juni 1756, maqomnya menjadi tujuan ziarah. Masjid ini sering dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia bahkan negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. 

Keberadaan masjid dan makam ini menjadi atraksi utama yang dikunjungi oleh para peziarah maupun wisatawan. Berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0128/M/1988, masjid ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya peninggalan sejarah perkembangan Islam di Indonesia (bersama dengan masjid lain: Masjid Al Mansyur, Masjid Annawir, Masjid Al Anshor, Masjid Al Anwar, Masjid Jami Kebon Jeruk, Masjid Jami Tambora).

 

 

 

June, 30 2021
Lihat & Temukan
Ditulis oleh

Ditulis oleh
Aryanandra
Copywriter
@pamanbercerita

Tweet
Print
Email
Apakah artikel ini relevan?
Artikel Terkait
Kampung Tertua Penuh Sejarah Di Jakarta Kawasan Luar Batang.
Revitalisasi Dan Renovasi Sebuah Jantung Kehidupan, Masjid Jami’ Keramat Luar Batang.
Sekilas Menapak Tilas Tentang Masjid Jami’ Keramat Luar Batang